Perjalanan FASI IX Sintang

Logo FASI IX SINTANG

Di pekan ke 3 bulan Mei, saya berkesempatan mengunjungi salah satu kabupaten yang ada di Kalimantan Barat yaitu Sintang. Saya tidak pergi sendiri ke sana, tapi bersama rombongan. Kunjungan saya ke sana bukan tanpa alasan dan tujuan. berawal dari penyelanggaran fasi tingkat kota Pontianak, saya terlibat dalam kepanitian. Setelah kegiatan itu selesai ternyata masih ada tindak lanjutnya. Bagi peserta fasi yang berhasil mendapat juara 1, akan diikutkan di FASI se-Kalimantan Barat. Kepanitian FASI tingkat kota Pontianak dibubarkan. Lalu lembaga LPPTKA Kota Pontianak, kembali membentuk panitia kontingen FASI kota Pontianak. Nah di saat pembentukan tersebut saya terpilih menjadi sekretaris. Terpilihannya saya sebagai sekretaris panitia bukan kemauan saya sendiri tapi atas pertimbangan dan hasil musyarawah bersama. Selain itu juga ada panitia koordinator tiap cabang lomba diambil dari ustadz/guru TK/TPA yang menang.

Setelah terbentuknya panitia disibukkan untuk menyiapkan peserta FASI selain itu juga sibuk mencari dana. Saya dan dibantu panitia lain membuat proposal dana untuk biaya keberangkatan. Terbatasnya biaya di lembaga LPPTKA maka dari itu dibantu penyebaran proposal oleh panitia kepada individu, orangtua santri, instansi pemerintah/ swasta, dan lain-lain. Perlu diketahui bahwa kegiatan ini sifatnya mandiri.

Guna mempersiapkan peserta lebih matang lagi panitia khafilah / kontingan FASI 9 kota Pontianak mengadakan latihan bersama atau bahasa kerennya training centre. Waktu yang digunakan hari minggu pagi. Walaupun dengan keterbatan tempat dan biaya namun tak mengurangi semangat panitia dan peserta untuk latihan. Berkat dukungan dari TK/TPA beberapa tempat yang kami gunakan untuk latihan yaitu di TPA Al Kautsar, Al Azhar, dan Raudhatul Muhtadin.
Singkatnya hasil dari penyebaran proposal oleh panitia, Alhamdulillah mendapatkan dukungan dari pemerintah kota Pontianak dan Bank Kalbar. Namun yang tak kalah penting juga bagi para donator yang tidak bisa kami cantumkan disini satu-persatu kami ucapkan terima kasih semoga yang bapak/ibu berikan menjadi amal kebaikan dan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah swt.

Dari hasil musyawarah dan melihat anggaran. Panitia juga menyiapkan pakaian batik untuk kontingen kota Pontianak. Untuk biaya peserta akomodasi ditanggung oleh panitia. Sedangkan bagi pendamping / orangtua santri dikenakan biaya transportasi.

Menjelang keberangkatan kami ke sintang, siangnya diadakan pelepasan oleh pemerintah kota Pontianak. Hal ini langsung dilepas oleh Wakil walikota Pontianak. Dalam acara tersebut ditampilkan salah satu cabang lomba FASI 9 yaitu cabang Nasyid dan Ikrar santri. Memang beberapa hari sebelumnya saya dan panita lain juga audiensi bersama beliau, sekaligus memintanya untuk menjadi ketua khafilah kontingen fasi kota Pontianak. Dari hasil membicangan tersebut jika beliau tidak bisa maka akan digantikan dengan yang lain.
Malam pun tiba, menjelang maghrib para rombongan peserta, pendamping, dan panitia berkumpul di Masjid Mujahidin. Kendaraan yang digunakan kontingen Pontianak ini ada 2 yaitu bis walikota dan bis carter damri. Sedangkan saya dan Sembilan panitia lainnya mengunakan bis umum damri.
****
MOGOK !!!!
Keberangkatan kami dengan bis ini lebih cepat dari 2 bis panitia. Sekitar pukul 7 an bis kami berangkat. Oiya…karena saya safar jadi shalat isya dijamak dengan shalat magrib jadi shalat jamak taqdim. Tidak jauh meninggalkan kota Pontianak, sopir damri menghentikan kendaraan. Ternyata ia sudah janjian dengan temannya untuk mengangkut beberapa rak langsat yang kemudian dimasukkan di bawah samping bagasi bis.
Perjalanan kami dari kota Pontianak melewati jembatan Kapuas 3 arah ambawang. Sepanjang perjalanan tidak ada halang rintangan. Jalan raya aspal memuluskan dan mendukung perjalanan kami. Jauh meninggalkan arah kota Pontianak dan ambawang, tiba kami di arah jalan tayan. Wow…. jalan tak bersahabat dengan kami. Perjalanan dimalam hari dengan cahaya lampu bis tampak batu saling bertumpukan tak seperti jalan sebelumnya yang kami lewati. Selain itu juga ditambah lagi dengan debu.
Diluar dugaan saya dan mungkin penumpang lainnya. Di tengah perjalanan bis damri yang kami tumpangi mogok. Mogoknya itu disebabkan lampu bis tidak menyala. Sebelumnya juga kami sempat istirahat sejenak di daerah bodok. Supir dan rekannya membetulkan kerusakannya. Dihitung-hitung hampir 2 jam kemudian lampu bis baru bisa menyala. Sudahlah gelap ditambah lagi suhu dalam bis terasa panas. Semenjak bis kami mogok 2 bis panitia mendahului kami.
***
Pemandangan gelap diterangi lampu bis serta debu menghiasi perjalanan saya dan penumpang lainnya. Ditambah lagi benturan batu dengan ban bis tak bisa terelelakkan. Penumpang juga ikut merasakannya. Ada juga beberapa tempat sinyal hilang. Jalan yang kami lalui
Sesampai di sintang saya dan rekan lainnya berhenti sebelum simpang tugu BI. Seorang dari kami menghubungi pantia FASI untuk menjemput kami. Bersambung……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s